Wellcome to Arcomedia Creative

Irama Sepatu Kuda di Aspal Kota: Menjaga Nafas Bendi Gorontalo

Admin Arcomedia
0
Pernahkah Anda membayangkan membelah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan tanpa suara bising mesin, melainkan hanya ditemani bunyi ritmis sepatu kuda yang beradu dengan aspal? Di Gorontalo, pengalaman ini bukan sekadar imajinasi, melainkan sebuah fragmen memori yang kini tengah diperjuangkan eksistensinya. Berkeliling dengan Bendi memberikan sensasi unik; tubuh Anda akan terasa terayun-ayun seirama dengan lari kuda, sementara angin sepoi-sepoi membelai wajah, membawa Anda dalam lamunan nostalgia masa kanak-kanak yang indah.

Bendi adalah transportasi tradisional Gorontalo, sebuah kereta beroda (dua hingga empat) yang digerakkan oleh tenaga kuda. Dengan ukuran sekitar dua kali satu meter, kendaraan ini mampu mengangkut tiga hingga lima orang penumpang. Namun, pemandangan bendi yang dulu memadati setiap ruas jalan kini telah berubah menjadi pemandangan yang langka.
Baca Juga: Raup 20 Juta dari Danau: Usaha Keramba Budidaya Ikan Danau Limboto!

Nostalgia Bendi Gorontalo: Kendaraan Unik yang Nyaris Punah!
Bendi Gorontalo Kendaraan Unik yang Nyaris Punah!

Senjakala Transportasi Tradisional

Dahulu, Bendi adalah primadona. Ia adalah kendaraan favorit anak-anak dan remaja untuk bepergian. Namun, seiring hadirnya Bentor (Bendi Motor) dan angkutan umum modern yang lebih cepat, Bendi mulai terdesak ke pinggiran sejarah. Di pusat perbelanjaan Kota Gorontalo saja, kini mungkin hanya tersisa dua atau tiga buah bendi yang masih setia menunggu penumpang.

Jika di daerah Jawa kendaraan serupa yang disebut Delman masih lestari di pusat perkotaan sebagai ciri khas budaya, di Gorontalo Bendi kini lebih sering muncul hanya pada hajatan budaya tertentu. Acara pemberian adat, pawai kendaraan hias, atau Festival Tumbilotohe menjadi panggung terakhir di mana Bendi bisa tampil dengan megah.

Banyak kusir yang akhirnya menyerah. Sebagian besar beralih menjadi pengemudi bentor demi pendapatan yang lebih pasti. Sebagian lainnya masih memanfaatkan kuda mereka, namun bukan untuk menarik penumpang, melainkan beralih fungsi menjadi penarik gerobak material bangunan atau hasil kebun. Secara ekonomi, menarik gerobak dianggap lebih menguntungkan karena masyarakat masih membutuhkan jasa angkut barang yang lebih murah dibandingkan menyewa mobil pick-up.

Nostalgia Bendi Gorontalo: Kendaraan Unik yang Nyaris Punah!

K Une: Sang Penjaga Warisan dari Tamalate

Di tengah arus modernisasi tersebut, sosok Pak Hasan Majiji atau yang akrab disapa K Une muncul sebagai pahlawan sunyi. Warga Kelurahan Tamalate ini adalah satu dari segelintir orang yang masih bertahan menekuni profesi sebagai kusir Bendi.

Keseharian K Une dimulai sejak pagi buta. Sebelum mencari rejeki, ia membawa kuda satu-satunya menuju Sungai Bone yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya untuk dimandikan. Ia menggunakan gerobak untuk mengangkut kuda tersebut—sebuah teknik yang efisien untuk mobilitas pagi harinya. Memandikan kuda bukanlah perkara mudah; K Une menekankan pentingnya kedekatan emosional. "Tak kenal maka tak sayang," ujarnya. Baginya, kuda bukan sekadar hewan penarik, melainkan sahabat yang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang.

Menariknya, K Une baru memulai usaha Bendi pada tahun 2007—saat di mana Bentor justru sedang mulai menjamur. Ia membeli Bendi bekas milik pamannya dengan modal total 1,5 juta rupiah (termasuk kuda dan perlengkapan). Sejak saat itu hingga hari ini, ia konsisten menjaga ritme hidupnya sebagai kusir.
Baca Juga: Menapaki Jejak Kolonial di Jantung Khatulistiwa: Pesona Kota Tua Gorontalo

Nostalgia Bendi Gorontalo: Kendaraan Unik yang Nyaris Punah!

Inovasi Bertahan Hidup di Balik Irama Kuda

K Une biasanya mulai beroperasi pukul tiga sore hingga sepuluh malam. Waktu pagi hingga siang ia dedikasikan untuk perawatan kuda, mulai dari memberi makan hingga memandikannya di sungai. Pendapatannya dari usaha ini memang tidak menentu, berkisar antara Rp70.000 hingga Rp100.000 per hari. Angka tersebut masih harus dipotong biaya pakan kuda sebesar Rp20.000.

Meski kondisi ekonominya sempat tertekan karena biaya pengobatan istrinya yang sakit, semangat K Une untuk melestarikan Bendi tidak pernah luntur. Kehadirannya di jalanan Kota Gorontalo adalah sebuah inovasi budaya yang hidup. Ia membuktikan bahwa di tengah kepungan mesin dan teknologi, ada sisi kemanusiaan dan tradisi yang tidak bisa digantikan oleh kecepatan.

Inovasi yang bisa kita ambil dari semangat K Une adalah konsistensi pada nilai. Agar Bendi tetap relevan, dibutuhkan dukungan dari masyarakat dan pemerintah untuk menjadikan Bendi sebagai bagian dari paket wisata kota. Bayangkan jika setiap wisatawan yang datang ke Gorontalo diwajibkan atau diajak mencoba pengalaman "Bendi City Tour". Ini bukan hanya soal transportasi, tapi soal menjual pengalaman dan kenangan.

Nostalgia Bendi Gorontalo: Kendaraan Unik yang Nyaris Punah!

Pesan dari Saya, Arief Arcomedia:

Bendi Gorontalo adalah warisan yang melampaui sekadar alat angkut. Ia adalah simbol kesabaran, kedekatan manusia dengan alam, dan bagian dari sejarah yang membentuk identitas kita. Sosok seperti K Une mengingatkan kita bahwa melestarikan budaya adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan. Tanpa dukungan kita, generasi mendatang mungkin hanya bisa melihat Bendi di dalam buku foto usang tanpa pernah merasakan ayunan langkah kuda yang menenangkan.

Mari kita jadikan Bendi sebagai pilihan utama saat ingin menikmati suasana kota di sore hari. Jangan biarkan irama sepatu kuda ini hilang ditelan suara bising mesin motor. Dengan menggunakan jasa para kusir bendi seperti K Une, kita tidak hanya membantu ekonomi mereka, tetapi juga ikut serta menjaga agar Bendi tetap ada dan bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Budaya adalah jati diri kita, dan menjaganya adalah tugas bersama.

Kapan terakhir kali Anda naik Bendi, dan kenangan apa yang paling membekas saat merasakan ayunan kereta kuda tersebut di tengah kota? Silakan tinggalkan cerita nostalgia Anda di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)