Arcomedia Creative | Small Business and Entrepreneur Solutions
Arcomedia Creative | Small Business and Entrepreneur Solutions

Dulu Nyaris Bangkrut, Kini Wijaya Saputra Pria Blitar Ini Kirim 1 Ton Frozen Food Bebek Ungkep Tiap Hari

Simak kisah inspiratif Mas Wijaya dari Blitar yang sukses membangun bisnis frozen food bebek dan ayam kampung hingga kirim 1 ton per hari keluar pulau

Blitar dikenal sebagai salah satu sentra peternakan terbesar di Indonesia. Namun, bagi Wijaya Prima Saputra, atau yang akrab disapa Mas Wi, potensi besar daerahnya sempat terasa mencekam ketika pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020. Sebagai peternak bebek sejak 2016, ia mendapati dirinya berada di titik nadir: 8.000 ekor bebek siap panen menumpuk di kandang tanpa ada satu pun tengkulak yang datang akibat kebijakan PPKM.

Krisis tersebut justru menjadi rahim lahirnya Yusri, sebuah merek frozen food (makanan beku) spesialis bebek dan ayam kampung ungkep yang kini merajai pasar dari Jabodetabek hingga Kalimantan. Ini bukan sekadar cerita tentang bertahan hidup, melainkan tentang transformasi dari seorang peternak yang "buta dapur" menjadi manufaktur pangan bersertifikat nasional yang mengedepankan kualitas dan kehalalan produk.

1. Titik Balik di Tengah Badai Pandemi

Sebelum tahun 2020, Mas Wi menjalani rutinitas peternak konvensional: memelihara bibit (Day Old Duck), membesarkannya selama 40 hari, lalu menjualnya ke tengkulak. Namun, ketergantungan pada harga pasar dan tengkulak membuat posisi tawar peternak sangat lemah. Kondisi ini seringkali membuat para peternak gigit jari saat harga pakan melambung namun harga jual bebek justru ditekan habis-habisan oleh para perantara.

Ketika PPKM memutus rantai distribusi, Mas Wi dihadapkan pada pilihan sulit. Biaya pakan terus membengkak sementara bebek-bebeknya semakin besar. "Kalau tidak dipotong, uang saya habis untuk pakan," kenangnya. Bebek-bebek tersebut jika dibiarkan terlalu lama di kandang akan mengalami penurunan kualitas daging dan tentu saja kerugian finansial yang tak terelakkan akibat konsumsi pakan harian yang tidak sebanding dengan harga jual.

Tanpa disadari, langkah darurat menyembelih 8.000 ekor bebek inilah yang membawanya keluar dari zona nyaman. Ia mulai melihat peluang bisnis baru: makanan siap saji yang praktis. Karena saat itu masyarakat dibatasi geraknya untuk keluar rumah, permintaan akan makanan yang tinggal goreng di rumah melonjak drastis. Inilah momen di mana insting bisnis Mas Wi mulai terasah untuk menciptakan produk bernilai tambah tinggi.

2. Eksperimen 7 Bulan 100 Kali Gagal

Transisi dari peternak ke pengolah makanan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bebek adalah bahan baku yang "tricky"—jika salah olah, dagingnya akan amis, apek, dan alot. Mas Wi harus berjuang ekstra keras karena sebelumnya ia tidak memiliki latar belakang sebagai koki atau ahli masak. Pengetahuan dasarnya hanyalah cara memelihara bebek, bukan cara menyajikannya di atas meja makan agar terasa lezat.

Demi mendapatkan resep yang sempurna, Mas Wi bahkan rela merogoh kocek hingga Rp15 juta untuk membeli sebuah e-book resep bumbu ungkep. Namun, hasilnya belum memuaskan. "Sudah beli mahal, rasanya masih ngalor-ngidul (tidak jelas)," ceritanya sambil tertawa. Kegagalan ini sempat membuatnya hampir putus asa, namun tekad untuk menyelamatkan modal yang tertanam di ribuan bebek dalam freezer membuatnya terus maju.

Ia tidak menyerah. Selama 7 bulan, ia melakukan lebih dari 100 kali percobaan. Ia membagikan sampel masakannya ke tetangga, paman, bibi, hingga saudara untuk mendapatkan kritik jujur. Baru setelah belajar langsung dari seorang praktisi rumah makan dan terus mengasah rasanya, ia menemukan formula yang pas: bebek yang empuk, bumbu meresap hingga ke tulang, dan tanpa bau amis sedikit pun. Keberhasilan ini menjadi fondasi kuat bagi merek Yusri untuk mulai dipasarkan secara luas.

3. Tantangan Infrastruktur dan Standar BPOM

Menjual makanan beku bukan sekadar urusan rasa, tapi juga keamanan pangan. Mas Wi menyadari bahwa untuk masuk ke pasar modern dan luar pulau, produknya harus memiliki izin BPOM dan sertifikasi Halal. Tanpa legalitas ini, usaha pangan skala industri akan sangat berisiko terkena masalah hukum dan sulit mendapatkan kepercayaan dari ritel-ritel besar.

"Biaya administrasi BPOM itu sebenarnya murah, hanya sekitar Rp500.000 untuk UMKM. Yang mahal adalah sarana dan prasarananya."

Syarat higienitas yang ketat menuntut perubahan desain bangunan, mulai dari material lantai yang harus anti slip dan mudah dibersihkan, atap tanpa celah untuk debu, hingga tata letak ruang produksi yang menerapkan sistem alur satu arah agar tidak terjadi kontaminasi silang. Mas Wi bahkan melakukan riset mendalam mengenai teknik sterilisasi. Ia menemukan bahwa kontaminasi nafas dan air liur manusia adalah penyebab utama makanan cepat basi. Oleh karena itu, di rumah produksinya, setiap pekerja wajib menggunakan APD lengkap seperti penutup mulut, sarung tangan, dan penutup kepala.

4. Efek Domino Ekonomi dan Pemberdayaan

Awalnya, Mas Wi dan istrinya mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari memasak di kuali besar, menimbang berat produk secara manual, hingga membungkus produk menggunakan mesin vakum rumahan hingga jam 2 pagi. Dedikasi ini membuahkan hasil, di mana pasar mulai mengenali kualitas bumbu Yusri yang otentik. Namun, seiring meningkatnya permintaan dari Karawang hingga Jogja, ia menyadari bahwa bisnis ini harus dijalankan secara sistematis dengan delegasi tugas.

Pemberdayaan Perempuan dan Lapangan Kerja

Kini, usaha frozen food miliknya telah membuka lapangan kerja bagi puluhan warga sekitar, khususnya memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di lingkungannya. Dengan bekerja di Yusri, mereka mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus pergi jauh meninggalkan desa. Dari yang awalnya hanya ingin menyelamatkan 8.000 bebek, kini Mas Wi rutin mengirimkan produk hingga 1 ton atau sekitar 2.000 bungkus per hari ke berbagai daerah strategis di Indonesia.

Produknya menyasar segmen menengah ke atas yang menghargai kualitas, kepraktisan, dan standar higienitas pabrik. Restoran-restoran di Jabodetabek kini menjadi mitra setia karena produk Mas Wi membantu mereka memangkas biaya operasional. Mereka tidak perlu lagi repot dengan proses penyembelihan yang kotor atau proses ungkep yang memakan waktu berjam-jam; cukup buka kemasan Yusri dan goreng selama 5 menit.

5. Filosofi Halalan Thayyiban dan Keberkahan Usaha

Mas Wi memegang prinsip bahwa makanan yang diproduksinya tidak hanya harus halal secara syariat, tetapi juga thayyib (baik dan sehat). Ia menghindari penggunaan pengawet kimia dan lebih memilih investasi pada teknologi freezer blasting. Teknologi ini memungkinkan penurunan suhu secara instan sehingga bakteri tidak sempat berkembang biak, menjaga tekstur daging tetap segar meski disimpan dalam waktu lama.

Di balik kesuksesan finansial ini, ada pelajaran hidup yang sangat membekas. Mas Wi sempat mengalami trauma saat membangun pabrik menggunakan dana utang bank yang justru berujung pada kendala lingkungan dan konflik. Ia memaknai kejadian tersebut sebagai teguran keras untuk membersihkan usahanya dari unsur riba. Sejak saat itu, ia bertekad menjalankan bisnis secara organik dengan modal murni dari laba usaha.

Kini, operasional Yusri berjalan tenang di rumah pribadinya yang telah disulap menjadi pabrik standar BPOM. "Alhamdulillah, tanpa utang bank justru hati lebih tenang dan rezeki mengalir lebih lancar," pungkasnya. Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak UMKM di Blitar dan sekitarnya untuk tetap optimis meski memulai dari kondisi yang paling sulit sekalipun.

Simak Penjelasan Selengkapnya Melalui Video Berikut:

Sumber: Ch. PecahTelur

Kesimpulan Redaksi Arcomedia: Bangkit dengan Integritas dan Inovasi

Perjalanan Mas Wijaya Prima Saputra adalah manifestasi nyata dari ketangguhan UMKM Indonesia. Dari seorang peternak yang hampir bangkrut karena PPKM, ia mampu melakukan pivot bisnis yang cerdas dengan memanfaatkan teknologi pengolahan pangan. Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah bahwa krisis seringkali menjadi katalisator bagi inovasi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Redaksi Arcomedia melihat bahwa keberhasilan merek Yusri bukan hanya karena rasanya yang enak, tetapi karena keberanian ownernya untuk mengurus legalitas (BPOM & Halal) serta komitmennya dalam menjalankan bisnis tanpa beban utang. Hal ini membuktikan bahwa kualitas produk dan ketenangan batin dalam berbisnis adalah kunci keberlanjutan sebuah usaha di era modern. Bagi Anda calon pengusaha, mulailah dengan apa yang Anda miliki, jaga integritas produk, dan jangan pernah takut untuk melakukan validasi pasar secara terus-menerus.

Posting Komentar