Modikili dan Walima I Syukur dan Harmoni dalam Tradisi Maulid Gorontalo

Arief Arcomedia
0

Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, Provinsi Gorontalo tetap teguh memegang teguh akar budayanya. Salah satu manifestasi paling nyata dari keteguhan ini adalah Tradisi Modikili dan Walima. Perayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, melainkan sebuah simfoni spiritual yang memadukan doa, sejarah, dan kearifan lokal dalam satu bingkai harmonis. Tradisi ini menjadi bukti hidup bagaimana masyarakat Gorontalo mengekspresikan rasa syukur, persatuan, dan penghormatan mendalam kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya melalui simbol-simbol yang sarat makna.

Setiap tahun, saat bulan Rabiul Awal tiba, aura di "Serambi Madinah" ini berubah menjadi sakral. Persiapan dimulai jauh-jauh hari di dapur-dapur warga hingga di serambi masjid. Walima bukan hanya soal tumpukan kue, tapi soal bagaimana setiap butir beras dan tetes nira diproses dengan niat ibadah. Inilah aset budaya nasional yang dijaga ketat oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVII, memastikan nilai-nilai otentik Gorontalo tetap terjaga dari pergeseran makna.

Baca Juga: Eksplorasi Kekayaan Budaya Gorontalo Lainnya di Arcomedia

Filosofi Dikili: Alunan Doa dan Sejarah yang Menghujam Kalbu

Modikili berasal dari kata Dikili atau zikir. Ini adalah inti dari aspek spiritual perayaan Maulid di Gorontalo. Alunan zikir dan salawat yang syahdu menggema di seluruh penjuru area masjid, seringkali berlangsung semalam suntuk hingga fajar menyingsing. Lantunan ini menciptakan atmosfer yang begitu kental dengan ketenangan, meresapi setiap hati yang hadir.

Keunikan utama Dikili terletak pada naskahnya yang menggunakan bahasa Arab Pegon yang disisipi kosa kata bahasa Gorontalo kuno. Naskah ini istimewa karena ditulis tanpa harakat (gundul), menuntut kemampuan baca dan pemahaman mendalam dari para sesepuh atau Imamu. Kemampuan melafalkan teks rumit ini tanpa jeda adalah bentuk penguasaan ilmu agama yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui Dikili, sejarah perjuangan Rasulullah diceritakan kembali dalam nada-nada yang khas, mengingatkan umat akan keteladanan beliau.

Walima dan Tolangga: Mahakarya Seni dalam Balutan Berkah

Jika Dikili adalah suara, maka Walima adalah rupa. Simbol visual paling menonjol dalam perayaan ini adalah Tolangga. Tolangga adalah sebuah wadah atau usungan yang dirakit dari kayu atau bilah bambu, seringkali dibentuk menyerupai kubah masjid atau perahu besar. Struktur ini kemudian dihiasi secara artistik dan dipenuhi dengan berbagai jenis kue tradisional Gorontalo.

Kue-kue yang wajib hadir antara lain Kolombengi, Tutulu, dan Sukade. Menariknya, seiring perkembangan zaman, isi Tolangga mulai beradaptasi dengan menyertakan barang-barang konsumsi modern seperti mie instan dan minuman kemasan, namun tetap mempertahankan inti dari tradisi tersebut. Di dalam Tolangga juga terdapat Toyopo—anyaman daun kelapa muda berisi nasi kuning dan lauk pauk—yang menjadi simbol kemakmuran pangan masyarakat agraris Gorontalo.

Workshop dan Lomba: Strategi BPK Melawan Kepunahan Budaya

Menyadari ancaman degradasi budaya pada generasi Z dan milenial, BPK Wilayah XVII mengambil langkah proaktif. Melalui Workshop Penguatan Tradisi Modikili di Masjid Baiturrahmah, para pemuda dan remaja masjid diajak untuk terlibat langsung. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi dilatih untuk memahami tata cara pembuatan Tolangga yang sesuai kaidah adat dan bagaimana cara melantunkan Dikili dengan benar.

Lomba Walima Tolangga yang diselenggarakan menjadi magnet bagi warga Kecamatan Kota Timur. Penilaian dilakukan dengan kriteria yang sangat ketat; dilarang menggunakan jajanan pabrikasi (snack bungkus) untuk kategori tertentu guna mendorong masyarakat kembali membuat kue-kue adat yang semakin langka. Strategi ini terbukti ampuh membangkitkan kembali industri rumah tangga kreatif di kelurahan-kelurahan sekitar.

Walima Puluto dan Tarian Longgo: Simbol Kehormatan

Puncak kemeriahan terlihat saat arak-arakan Walima Puluto. Ini adalah jenis Walima berukuran raksasa, biasanya persembahan dari tokoh penting atau pejabat pemerintah. Prosesi pengantaran Walima Puluto ke masjid selalu diiringi oleh Tarian Longgo—sebuah tarian keprajuritan tradisional Gorontalo yang melambangkan keberanian dan kesiapan menjaga kehormatan agama serta tanah air.

Simak Dokumentasi Lengkap Tradisi Modikili:

Momen Perebutan Walima: Kegembiraan Kolektif yang Unik

Setelah doa penutup dibacakan, terjadilah fenomena yang paling ditunggu: Rebut Walima. Di mata orang asing, ini mungkin terlihat kacau, namun bagi masyarakat Gorontalo, ini adalah puncak kegembiraan. Merebut isi Walima dipercayai membawa berkah tersendiri. Tidak ada amarah dalam proses ini, hanya tawa dan semangat kebersamaan. Inilah sisi unik sosiokultural Gorontalo, di mana ritual formal diakhiri dengan pesta rakyat yang meriah.

Kesimpulan Tim Arcomedia

Sebagai putra daerah yang besar di tanah Gorontalo, saya melihat Tradisi Modikili dan Walima lebih dari sekadar perayaan agama. Ia adalah "lem sosial" yang merekatkan setiap lapisan masyarakat. Di era digital ini, sangat penting bagi kita untuk mendokumentasikan dan mempromosikan tradisi ini agar tidak hanya menjadi cerita bagi anak cucu. Upaya BPK Wilayah XVII dalam merangkul pemuda melalui workshop adalah langkah strategis yang harus kita dukung penuh. Mari kita jadikan kearifan lokal ini sebagai identitas bangsa yang membanggakan di mata dunia.

© 2026 Arcomedia Digital Platform - Mendokumentasikan Budaya Gorontalo untuk Dunia.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)