Bagi sebagian besar anak muda, gelar sarjana dari universitas ternama luar negeri adalah tiket emas menuju meja kantor ber-AC, seragam necis, atau posisi mentereng di jajaran birokrasi. Namun, bagi Ibnu Riza, lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, kesuksesan tidak diukur dari seberapa tinggi gedung tempatnya bekerja, melainkan dari seberapa dalam cangkulnya menyentuh tanah kelahiran di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Kepulangannya dari Mesir setelah lima tahun mendalami Syariah Islamiyah dan Perbandingan Mazhab sempat memicu gelombang tanya dan cibiran. Di mata tetangga dan kerabat, pilihan Ibnu untuk terjun ke dunia pertanian cabai dianggap sebagai sebuah "kemunduran". Namun, Ibnu Riza membawa misi yang lebih besar: membenahi pola pikir (mindset) anak muda terhadap dunia pertanian yang selama ini dianggap tidak bergengsi.
Melawan Stigma "Lulusan Gagal" dan Mentalitas PNS
"Kok enggak ngajar? Kok enggak jadi PNS? Kuliah jauh-jauh ke Mesir kok malah ke sawah?" Kalimat-kalimat bernada sanksi itu menjadi makanan sehari-hari Ibnu saat pertama kali menginjakkan kaki di ladang. Di Indonesia, ada pola pikir yang sudah mengakar bahwa pertanian tidak menjamin kelayakan hidup. Stigma ini begitu kuat sehingga banyak sarjana lebih memilih menganggur daripada harus bergelut dengan lumpur.
Ibnu menyadari bahwa yang salah bukanlah bidangnya, melainkan sistem dan cara pandang pelakunya. Sebagai lulusan luar negeri yang sempat mencicipi dunia bisnis money changer dan logistik di Kairo selama 5 tahun, Ibnu melihat pertanian sebagai sebuah opportunity (peluang) masa depan yang belum tergarap maksimal oleh kalangan terpelajar. Ia membawa pulang etos kerja internasional ke lahan Magelang.
Ia memilih diam terhadap kritik, lalu menjawabnya dengan totalitas kerja. Bagi Ibnu, menjadi petani bukan berarti berhenti belajar, justru ini adalah medan tempur baru untuk membuktikan bahwa intelektualitas sarjana sangat dibutuhkan untuk memajukan sektor pangan nasional. Dengan manajemen yang terstruktur, pertanian cabai yang dikelolanya mulai menunjukkan hasil yang jauh melampaui gaji kantoran standar.
Membumikan Al-Qur'an di Atas Bedengan Cabai
Menariknya, latar belakang pendidikan agama Ibnu justru menjadi kekuatan mental utamanya. Ia tidak hanya menggunakan cangkul, tapi juga membawa prinsip-prinsip spiritual dalam bertani. Ibnu sering mengutip Surat Al-Waqiah sebagai pengingat bahwa petani hanyalah perantara. Tawakal menjadi bensin utama ketika tantangan alam mulai menerjang lahan produksinya.
"Apakah kamu yang menumbuhkan benih itu, atau Kami yang menumbuhkan?" Kalimat suci ini membuatnya tetap membumi. Ibnu menjelaskan bahwa manusia hanya punya kuasa untuk mengolah lahan, memberi pupuk, dan mengairi. Selebihnya, pertumbuhan akar dan lebatnya buah adalah otoritas Tuhan. Pemahaman ini membuatnya tidak mudah stres saat menghadapi kegagalan panen.
Filosofi ini melahirkan mentalitas yang tangguh. Saat tanaman layu atau harga anjlok, Ibnu tidak terpuruk. Ia mempraktikkan syukur yang mendalam. "Dengan bersyukur, hati tenang dan pikiran enak. Dari situlah muncul ide-ide brilian," ungkapnya. Tanpa rasa syukur, petani hanya akan dikuasai kecemasan yang justru merusak manajemen usaha dan mengaburkan logika dalam mengambil keputusan krusial di lapangan.
Teknik Pertanian: Olah Lahan adalah Pondasi Utama
Di lahan seluas 1,3 hektar, Ibnu Riza membuktikan bahwa bertani cabai membutuhkan etos kerja yang presisi. Ia tidak asal tanam. Baginya, pondasi utama bukanlah benih mahal atau pupuk kimia yang banyak, melainkan olah lahan yang benar. Jika pondasi tanahnya rusak, maka seluruh investasi di atasnya akan sia-sia.
Ia menekankan pentingnya mengecek kegemburan tanah dan nutrisi alami sebelum mulai menanam. Jika tanahnya tidak mendukung, teknologi secanggih apa pun tidak akan membuahkan hasil maksimal. Ibnu juga berbagi tips menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang sering membuat petani cabai pemula menyerah di tengah jalan:
- Penyakit Antraknosa & Layu: Menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb secara rutin, terutama saat musim hujan.
- Manajemen Nutrisi: Mengurangi penggunaan kohe (kotoran hewan) ayam jika ingin tanaman lebih selamat dari risiko layu, meski buah mungkin tidak selebat jika menggunakan kohe secara masif.
- Kendali Hama: Fokus pada bahan aktif abamektin untuk menghadapi serangan hama thrips dan tungau.
Pesan untuk Anak Muda: Modal Utama adalah Mental
Banyak yang menganggap Ibnu bisa sukses karena memiliki privilege lahan atau modal dari orang tua. Namun, ia membantah hal tersebut dengan tegas. Baginya, modal terbesar adalah mentalitas. "Banyak anak konglomerat yang hancur saat memegang bisnis bapaknya karena mental dan mindset yang salah," jelasnya.
Modal utama yang ia bawa pulang dari Kairo bukanlah uang, melainkan framework berpikir yang terstruktur. Ia menyarankan anak muda untuk memperbaiki cara pandang melihat dunia. Jika lingkungan sekitar tidak mendukung, carilah lingkungan baru yang frekuensinya searah dengan tujuan hidup, seperti komunitas ladangbarokah.id yang ia asuh.
Simak Video Inspirasi Selengkapnya:
Sumber: Ch. CapCapung
Kesimpulan Redaksi Arcomedia
Kisah Ibnu Riza adalah tamparan keras bagi narasi yang menyebut bahwa masa depan hanya ada di kota besar dengan pekerjaan kantoran. Redaksi Arcomedia melihat bahwa keberanian Ibnu melakukan pivot dari studi agama di luar negeri ke ladang pertanian adalah bentuk "jihad ekonomi" yang nyata. Ia tidak hanya menyelamatkan dirinya secara finansial, tetapi juga memberikan solusi bagi ketahanan pangan nasional di tengah minimnya keterlibatan sarjana di sektor ini.
Kunci keberhasilan Ibnu terletak pada harmonisasi antara Intelektualitas, Spiritual, dan Etos Kerja. Gelar dari Al-Azhar tidak membuatnya merasa terlalu tinggi untuk menyentuh tanah, justru ilmu agamanya membuat ia lebih tangguh menghadapi fluktuasi pasar dan tantangan alam dengan prinsip syukur. Ini adalah contoh nyata bahwa di tangan anak muda yang tepat, sektor pertanian bukan lagi soal "bertahan hidup", melainkan soal "kesejahteraan yang berkah".
(Artikel ini telah diekspansi untuk memberikan gambaran mendalam tentang potensi pertanian modern bagi anak muda Indonesia.)


Posting Komentar