Kisah Muhammad Ariq Syach, Maore.Co, Sumber: Ch. Naik Kelas
Dari Basreng Rp100 Ribu Hingga Modal Rp16 Juta
Jiwa entrepreneurship Ariq tidak muncul dalam semalam. Sejak kelas 1 SMA, ia sudah melatih insting dagangnya dengan berjualan basreng dan dimsum dari rumah ke rumah. Dengan modal awal hanya Rp100.000 uang saku pemberian neneknya, ia memutar modal tersebut hingga menjadi Rp1 juta. Tak berhenti di sana, ia beralih menjadi reseller brand lokal ternama (Aero Street, Rukas, dll.) di marketplace hingga mengumpulkan modal sebesar Rp16 juta.
Meski sempat diminta fokus kuliah oleh orang tuanya, insting bisnis Ariq tak bisa dibendung. Memasuki semester 3, rasa "gatal" itu muncul kembali. Dengan sisa uang tabungan sebesar Rp6 juta, ia memberanikan diri melahirkan Maore.Co pada Desember 2023.
Meski sempat diminta fokus kuliah oleh orang tuanya, insting bisnis Ariq tak bisa dibendung. Memasuki semester 3, rasa "gatal" itu muncul kembali. Dengan sisa uang tabungan sebesar Rp6 juta, ia memberanikan diri melahirkan Maore.Co pada Desember 2023.
Unique Selling Point (USP) sebagai "Game Changer"
Ariq memahami bahwa pasar tas sangatlah jenuh. Untuk menang, ia harus membawa solusi, bukan sekadar gaya. Ia melakukan riset mendalam (R&D) yang menghabiskan 80% modal awalnya untuk menciptakan dua konsep utama:
- Foldable Concept: Tas yang dapat dilipat menjadi ukuran sangat kecil, sangat efisien untuk mobilitas tinggi.
- Gadget Organizer: Tas yang dirancang khusus untuk menyimpan tablet, handphone, dan perlengkapan digital lainnya secara kompartemen.
Proyek B2G dan Lonjakan Omzet Eksponensial
Titik balik Maore.Co terjadi di bulan kedua, Januari 2024. Sebuah pesanan customize sebanyak 325 unit datang dari instansi pemerintah (Diskominfo). Transaksi yang dilakukan melalui marketplace ini menjadi pemicu algoritma dan kepercayaan pasar. Dari yang awalnya hanya laku 5 unit per minggu, penjualan melesat menjadi 50-70 unit per hari.Dalam waktu singkat, omzet bulanan Maore.Co konsisten berada di angka Rp110 juta hingga Rp150 juta. Total wholesale sepanjang tahun 2024 menyentuh angka fantastis Rp1,4 miliar.
Baca Juga: Bedah Strategi CEO Mindset Sandiaga Uno dalam Navigasi Krisis
Ariq juga dikenal sangat disiplin dalam finansial. Ia memegang prinsip "10 Times Rule": ia hanya akan membeli barang konsumtif (seperti iPhone untuk kerja) jika saldo di rekeningnya sudah mencapai 10 kali lipat harga barang tersebut. Keuntungan bisnisnya lebih banyak dialokasikan untuk membeli mesin produksi, menambah tim, atau investasi di saham daripada hura-hura.
Manajemen Waktu: Membagi Otak Antara Teknik dan Bisnis
Salah satu bagian paling mengesankan dari kisah Ariq adalah kemampuannya menjalankan peran sebagai mahasiswa semester akhir di ITB sekaligus CEO. Ia membagi 24 jam waktunya secara kaku: fokus kuliah saat jam pelajaran, dan fokus bisnis setelahnya. Setiap subuh, ia memiliki ritual mencatat ilmu dari podcast bisnis untuk menutupi keterbatasan latar belakang pendidikannya yang bersifat teknik.Ariq juga dikenal sangat disiplin dalam finansial. Ia memegang prinsip "10 Times Rule": ia hanya akan membeli barang konsumtif (seperti iPhone untuk kerja) jika saldo di rekeningnya sudah mencapai 10 kali lipat harga barang tersebut. Keuntungan bisnisnya lebih banyak dialokasikan untuk membeli mesin produksi, menambah tim, atau investasi di saham daripada hura-hura.
Sumber Inspirasi: Ch. Naik Kelas
Diplomat Success Challenge (DSC): Validasi dan Dana Hibah
Keinginan Ariq untuk berada di lingkungan yang "berbau bisnis" membawanya mengikuti kompetisi Diplomat Success Challenge (DSC). Di sana, ia tidak hanya mendapatkan dana hibah sebesar Rp80 juta, tetapi juga mendapatkan tiga bekal fundamental:- Paham: Mengerti fundamental bisnis secara menyeluruh.
- Piawai: Lancar dan berani dalam mengomunikasikan nilai produk.
- Persona: Membangun karakter diri yang dipercaya oleh investor dan pasar.
Analisa Bisnis: Efisiensi Inovasi di Tangan Gen-Z
Oleh: Arief ArcomediaMelihat kesuksesan Ariq Syach, terdapat tiga elemen kunci yang bisa menjadi pelajaran bagi pengusaha muda lainnya:
- R&D Berbasis Problem-Solving Ariq tidak menjual tas karena suka fashion, tapi karena melihat masalah efisiensi pada teman-teman mahasiswanya. Di era sekarang, brand lokal yang sukses adalah mereka yang mampu menggabungkan fungsi teknis dengan estetika branding. Konsep foldable adalah jawaban atas gaya hidup nomaden anak muda masa kini.
- Disiplin Finansial dan Alokasi Aset Banyak pengusaha muda tumbang karena "terjebak" gaya hidup setelah mendapatkan omzet Rp100 juta pertama. Ariq menunjukkan mentalitas long-term wealth dengan menunda kesenangan (delayed gratification). Ia memperlakukan omzet sebagai modal putar, bukan pendapatan pribadi, yang memungkinkan Maore.Co melakukan skalabilitas tanpa bergantung pada hutang besar.
- Networking sebagai Akselerator Keputusan Ariq mengikuti DSC membuktikan bahwa pengusaha yang pintar tahu kapan harus mencari mentor. Dana hibah Rp80 juta memang besar, namun nilai networking dan akses ke C-Level merupakan aset yang jauh lebih mahal. Ini memperpendek kurva belajar (learning curve) Ariq yang sebelumnya hanya belajar secara otodidak dari podcast.



