Bagi Mas Adit, sapaan akrabnya, mengelola bisnis bukan sekadar mengejar omzet, melainkan sebuah penugasan spiritual. Kisah pengembaraannya dari tanah Lampung hingga menjadi motor penggerak bisnis kuliner di Kediri adalah potret nyata tentang bagaimana mentalitas santri, bakti kepada orang tua, dan keberanian "babat alas" mampu mengubah ketidaktahuan menjadi keberhasilan yang berdampak.
Aditya Nugroho, Sumber: Ch. PecahTelur
Dari Bilik Pesantren ke Hingar Bingar Dapur
Perjalanan Adit tidak dimulai dari sekolah bisnis ternama atau kursus kuliner bersertifikat. Ia adalah seorang santri. Setamatnya dari Pondok Wali Barokah, ia mengabdikan diri dalam penugasan pondok selama satu setengah tahun di wilayah Kediri. Di sinilah garis takdirnya mulai bersinggungan dengan dunia wirausaha.Pada Agustus 2023, sebuah amanah baru datang: mengelola unit usaha bersama bernama Ayam Tulang Lunak Mbok Sup. Saat itu, usianya baru menginjak 23 tahun. Tanpa latar belakang di bidang kuliner, Adit dihadapkan pada bangunan ruko yang besar dan tanggung jawab yang lebih besar lagi.
"Mungkin yang pertama di pikiran saya itu sangat-sangat beban. Saya tidak punya basic atau pengalaman di bidang kuliner, apalagi langsung diamanati memegang ruko sebesar ini," kenang Adit.
Namun, di sinilah keunikan sistem "Usaha Bersama" (UWU) yang ia jalani. Ia tidak sendirian. Bisnis ini merupakan kolaborasi komunitas keluarga yang menitipkan kepercayaan padanya untuk mengelola modal dan aset bersama. Dengan niat tulus ingin membantu melancarkan niat baik komunitas tersebut, Adit pun memberanikan diri melangkah.
Restoran Ayam Tulang Lunak
Seni Melunakkan Tulang: Lebih dari Sekadar Presto
Ayam Tulang Lunak Mbok Sup bukanlah menu yang mudah ditaklukkan. Secara teknis, membuat tulang ayam menjadi lunak hingga bisa dimakan memerlukan presisi tinggi. Adit menjelaskan bahwa banyak orang mengira hanya dengan alat presto, segalanya selesai. Padahal, tantangan sebenarnya adalah menjaga agar tulang hancur namun daging tetap utuh dan cantik saat disajikan."Tidak sembarangan orang bisa meresto. Bisa lunak, tapi kalau terlalu lama, dagingnya hancur dan tidak bisa digoreng," jelasnya.
Ketelitian ekstra ini menjadi metafora bagi cara Adit mengelola bisnisnya. Ia harus teliti dalam belanja bahan baku, presisi dalam manajemen waktu, hingga disiplin dalam administrasi. Di restorannya, ia memegang kendali penuh—mulai dari laporan harian hingga urusan adminstrasi yang rumit—semuanya ia pelajari secara otodidak melalui proses learning by doing.
Modal Utama: Mental dan "Orang Tua Sambung"
Bagi Adit, uang adalah modal pendukung, namun mental adalah modal utama. Ia meyakini bahwa bisnis memiliki ritme yang tidak menentu. Ada kalanya restoran ramai, namun ada kalanya omzet menurun drastis hingga hanya cukup untuk membayar gaji karyawan tanpa sisa keuntungan bagi pengelola.
"Kita harus mempunyai mental, mempunyai modal, dan mempunyai iktikad baik atau konsisten," tegasnya.
Di tanah perantauan, Adit beruntung tidak merasa kesepian. Ia dipertemukan dengan sosok "orang tua sambung" di Kediri yang merawatnya seperti anak sendiri. Kehadiran figur orang tua ini memberikan keseimbangan emosional bagi Adit yang harus merantau jauh dari Lampung. Berkat dukungan dan arahan mereka pula, Adit mampu mengambil keputusan-keputusan strategis, termasuk keberaniannya membuka cabang baru di wilayah Kota Kediri setelah melihat potensi perkembangan usaha di kabupaten.
Restoran Ayam Tulang Lunak Mbok Sup, Sumber: Ch. PecahTelur
Bakti yang Menembus Jarak dan Duka
Di balik wajah tenangnya, Adit menyimpan kerinduan dan ketegaran yang luar biasa. Selama lima tahun merantau, ia hampir tidak pernah merasakan suasana Lebaran di rumah. Tanggung jawab terhadap "Amal Sholeh" di pondok dan restoran membuatnya harus memprioritaskan amanah di atas keinginan pribadi.
Ujian terberat datang ketika sang Ayah berpulang. Sebagai anak, ia merasakan duka yang mendalam, namun tanggung jawab profesional memaksanya untuk tidak bisa pulang seketika. Ia baru bisa kembali ke Lampung tiga hari setelah sang ayah tiada karena harus menyelesaikan laporan pertanggungjawaban operasional.
Namun, Adit tidak membiarkan jarak memutus baktinya. Komunikasi intens dan permintaan doa restu kepada sang Ibu menjadi "bahan bakar" utama kelancaran usahanya. Ia percaya bahwa doa orang tua adalah kunci keberkahan. Salah satu pencapaian yang paling ia syukuri adalah ketika Allah memberikan kesempatan baginya untuk menunaikan ibadah umrah pada November lalu dari hasil kerja kerasnya sendiri.
"Hidup kalau tidak ada izin atau bakti kepada orang tua, mungkin bisa berjalan tetapi tidak bisa berkembang dan barokah," ujarnya dengan nada penuh keyakinan.
Impiannya sederhana namun mulia: ingin terus memperluas usaha agar bisa membantu ekonomi keluarga dan menjadi jalan rezeki bagi orang lain. Baginya, setiap keuntungan yang didapat adalah titipan untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Bagi anak muda yang ingin memulai usaha, Mas Adit memberikan pesan singkat namun padat: "Cari pengalaman terlebih dahulu. Jangan takut bertanya, dan pastikan niatnya baik."
Ujian terberat datang ketika sang Ayah berpulang. Sebagai anak, ia merasakan duka yang mendalam, namun tanggung jawab profesional memaksanya untuk tidak bisa pulang seketika. Ia baru bisa kembali ke Lampung tiga hari setelah sang ayah tiada karena harus menyelesaikan laporan pertanggungjawaban operasional.
Namun, Adit tidak membiarkan jarak memutus baktinya. Komunikasi intens dan permintaan doa restu kepada sang Ibu menjadi "bahan bakar" utama kelancaran usahanya. Ia percaya bahwa doa orang tua adalah kunci keberkahan. Salah satu pencapaian yang paling ia syukuri adalah ketika Allah memberikan kesempatan baginya untuk menunaikan ibadah umrah pada November lalu dari hasil kerja kerasnya sendiri.
"Hidup kalau tidak ada izin atau bakti kepada orang tua, mungkin bisa berjalan tetapi tidak bisa berkembang dan barokah," ujarnya dengan nada penuh keyakinan.
Visi Kedepan: Memberi dan Berbagi
Kini, di usianya yang menginjak 25 tahun, Adit telah membuktikan bahwa keterbatasan pengalaman bukanlah penghalang selama ada kemauan untuk bertanya kepada yang lebih ahli. Ia sering melakukan sharing dan tukar pengalaman dengan pengusaha senior untuk mempertajam insting bisnisnya.Impiannya sederhana namun mulia: ingin terus memperluas usaha agar bisa membantu ekonomi keluarga dan menjadi jalan rezeki bagi orang lain. Baginya, setiap keuntungan yang didapat adalah titipan untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Bagi anak muda yang ingin memulai usaha, Mas Adit memberikan pesan singkat namun padat: "Cari pengalaman terlebih dahulu. Jangan takut bertanya, dan pastikan niatnya baik."
Restoran Ayam Tulang Lunak Mbok Sup Kota Kediri
Analisis Oleh: Arief Arcomedia
Melihat perjalanan Mas Aditya Nugroho dalam mengelola Ayam Tulang Lunak Mbok Sup, ada beberapa poin krusial yang bisa kita petik sebagai pelajaran berharga bagi ekosistem UMKM, khususnya di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya:
Jika Anda sedang melintasi Simpang Lima Gumul, jangan lupa mampir ke Jalan Erlangga No. 95. Di sana, Anda tidak hanya akan mencicipi ayam yang tulang dan dagingnya lumer di mulut, tapi juga merasakan hangatnya perjuangan seorang perantau.
- Model Bisnis berbasis Komunitas (Community-Based Enterprise) Apa yang dilakukan Mas Adit melalui "Usaha Bersama" adalah bentuk nyata dari ekonomi gotong royong. Di tengah gempuran kapitalisme yang mengandalkan pemodal tunggal, model UWU ini membuktikan bahwa pengumpulan modal dari komunitas keluarga/organisasi mampu menciptakan unit bisnis yang tangguh. Kekuatannya terletak pada trust (kepercayaan) dan pengawasan kolektif.
- Strategi Ekspansi dari Pinggiran ke Pusat (Periphery to Core) Langkah Mas Adit membuka cabang di wilayah Kota Kediri setelah sukses di wilayah Kabupaten (Paron) adalah strategi yang cerdas. Seringkali pengusaha terjebak untuk langsung bertarung di pusat kota dengan biaya sewa tinggi. Dengan memulai dari wilayah dengan harga tanah "di bawah rata-rata" namun memiliki aksesibilitas bagus, ia berhasil membangun cash flow yang sehat sebelum melakukan ekspansi ke pasar yang lebih kompetitif.
- Spiritual Marketing & Integritas Produk Dalam dunia pemasaran modern, kita mengenal istilah Authenticity. Mas Adit tidak menjual "agama", tetapi ia menerapkan nilai-nilai santri (kejujuran dan ketaatan perizinan) ke dalam operasional bisnis. Hal ini menciptakan loyalitas pelanggan yang organik. Produk yang dibuat dengan ketelitian tinggi (teknik presto yang presisi) memastikan kualitas barang tetap terjaga, yang merupakan syarat mutlak keberlanjutan bisnis kuliner.
- Pentingnya Agility (Kelincahan Belajar) Transformasi dari seorang santri menjadi pengelola resto menunjukkan kemampuan agility. Di era digital ini, kemampuan untuk belajar hal baru dengan cepat jauh lebih penting daripada gelar formal. Mas Adit menunjukkan bahwa dengan rendah hati bertanya pada praktisi, seorang pemula bisa memangkas kurva belajar dan meminimalisir risiko kegagalan.
Video selengkapnya, Sumber: Ch. PecahTelur
Sebagai praktisi kreatif, saya melihat Mas Aditya Nugroho bukan hanya sekadar pedagang ayam. Ia adalah seorang manajer krisis, administrator, sekaligus pemimpin muda yang memahami bahwa kesuksesan finansial harus berbanding lurus dengan ketenangan spiritual. Kisah ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa di setiap tulang yang lunak dan lezat, ada doa orang tua dan konsistensi yang sangat keras di baliknya.
Jika Anda sedang melintasi Simpang Lima Gumul, jangan lupa mampir ke Jalan Erlangga No. 95. Di sana, Anda tidak hanya akan mencicipi ayam yang tulang dan dagingnya lumer di mulut, tapi juga merasakan hangatnya perjuangan seorang perantau.




