Momeati Tradisi pembeatan bagi perempuan Gorontalo Menandai Perubahan Status Gadis

Arief Arcomedia
0
Tradisi pembeatan bagi perempuan Gorontalo, yang dikenal sebagai "Mome'ati" atau "Mo Be'ati", adalah upacara adat yang menandai perubahan status seorang gadis menjadi remaja yang telah akil baligh dan secara religius menjadi muslimah seutuhnya. Ritual ini merupakan bagian dari warisan budaya Gorontalo yang dilindungi hukum dan memiliki nilai spiritualitas Islam yang kuat.

Upacara ini menandai perubahan fisik dan spiritual seorang gadis saat memasuki masa pubertas, yang ditandai dengan menstruasi pertama. Mome'ati juga dianggap sebagai proses pemurnian diri melalui tradisi Islam, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang agama kepada gadis tersebut.
Momeati Tradisi pembeatan bagi perempuan Gorontalo

Makna Filosofis di Balik Tradisi Mome'ati

Bagi masyarakat Gorontalo, seorang anak perempuan adalah permata keluarga yang harus dijaga kehormatannya. Ketika ia mengalami menarche atau menstruasi pertama, hal tersebut bukan sekadar fenomena biologis, melainkan sebuah proklamasi bahwa ia kini memikul tanggung jawab penuh di hadapan Allah SWT. Di sinilah Mome'ati berperan sebagai media edukasi seksual dan spiritual yang dibalut dalam keindahan adat.

Secara etimologi, Mome'ati berasal dari kata "Ba'at" yang berarti janji atau sumpah setuju. Gadis tersebut bersumpah untuk meninggalkan masa kanak-kanaknya dan siap menjalankan syariat Islam secara kaffah. Inilah mengapa dalam filosofi Gorontalo, adat dan syara' tidak bisa dipisahkan, sebagaimana pepatah "Adat bersendikan Syara', Syara' bersendikan Kitabullah".

Prosesi dan Tahapan Upacara Mome'ati

Upacara Mome'ati dilakukan di rumah orang tua gadis yang sudah memasuki masa kedewasaan. Pelaksanaan upacara biasanya dilakukan pada siang hari menjelang waktu Dzuhur atau Ashar, melibatkan bidan kampung (Hulango), pemangku adat, dan pegawai syara'.

Ritual ini terdiri dari berbagai tahapan penting yang penuh simbolisme:
  • Momondo (Pemberian Tanda Suci): Hulango menyentuh dahi, pundak, lengan, dan lutut gadis dengan campuran rempah alawahu tilihu (kunyit, kapur, dan air). Ini melambangkan pemurnian pikiran, tenaga, dan langkah kaki sang gadis agar selalu berada di jalan yang lurus.

  • Ramalan Tradisional: Hulango melemparkan potongan jeruk, pala, dan cengkih ke dalam talam. Pola jatuhnya benda-benda ini dipercaya secara simbolis memberikan gambaran mengenai karakter gadis tersebut di masa depan, yang kemudian diikuti dengan nasihat-nasihat bijak.

  • Momuhuto (Siraman): Gadis duduk di atas dudangata (parutan kelapa) menghadap ke timur, melambangkan harapan akan masa depan yang cerah seperti matahari terbit. Ia disiram dengan air suci dari 7 ruas bambu kuning yang berisi koin dan bunga wangi.
Momeati Tradisi pembeatan bagi perempuan Gorontalo

Simbolisme Mopohuta’a to pingge: Melangkah di Atas Tanggung Jawab

Setelah siraman, dilakukan ritual Tepuk Mayang. Hulango menggosokkan pucuk mayang ke seluruh tubuh gadis, sebuah simbol pembersihan aura negatif. Prosesi ini diakhiri dengan memecahkan telur di depan sang gadis sebagai simbol pecahnya masa kanak-kanak dan lahirnya tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Tahapan berikutnya adalah Mopohuta’a to pingge, di mana gadis berjalan di atas 11 piring yang berisi koin, beras, dan daun puring. Tujuh piring utama memiliki makna mendalam bagi pertahanan hidup dan kehormatan seorang perempuan:
  • Tanah & Tumbuhan Po’otoheto: Mengajarkan bahwa iman harus kokoh menghujam ke bumi, tak tergoyahkan oleh badai cobaan.
  • Buah Jagung: Simbol bahwa seorang wanita harus mampu menjaga kesucian diri laksana biji jagung yang terbungkus rapat oleh kelobotnya.
  • Beras: Pesan agar sang gadis tetap rendah hati. Semakin berisi, semakin merunduk seperti ilmu padi.
  • Tala’a Ngala’a (Uang): Edukasi finansial sejak dini agar pandai mengelola rumah tangga dan menjauhi sifat boros.
  • Daun Puring (Polohungo): Simbol kekuatan untuk memegang teguh pantangan adat Umobulilo (hal-hal yang dilarang) dan Umo’olito (hal-hal yang memalukan).
  • Bakohati Umonu (Ramuan Harum): Mengajarkan pentingnya merawat kecantikan luar dan dalam (inner beauty).
  • Bulewe (Mayang Pinang): Harapan agar sang gadis bisa mengharumkan nama baik keluarga layaknya wangi mayang pinang yang merekah.
Selengkapnya dalam Video Dokumentasi Pembeatan Massal Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, 22 Mei 2025.

Klik Disini: Menapaki Jejak Kota Tua Gorontalo
 

Nilai Religiusitas dan Masa Depan Pelestarian Budaya

Puncak dari seluruh prosesi ini adalah Pembaiatan secara Islam. Sang gadis dituntun oleh Imam atau Pegawai Syara' untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dengan khidmat. Di momen ini, diberikan penjelasan mendalam mengenai kewajiban salat lima waktu, puasa, dan tata cara mandi wajib (jinabat).
 
Momeati Tradisi pembeatan bagi perempuan Gorontalo

Eksistensi Mome'ati kini semakin diperkuat oleh pemerintah daerah. Pada 22 Mei 2025, Pemerintah Kota Gorontalo menyelenggarakan pembeatan massal yang diikuti oleh 50 remaja putri. Walikota Gorontalo menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menjaga benteng moral generasi muda dari gempuran budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa.

Ketua DPRD Kota Gorontalo juga menambahkan bahwa dukungan anggaran untuk pelestarian adat seperti Mome'ati akan terus diprioritaskan. Dengan demikian, identitas "Serambi Madinah" akan terus melekat pada setiap helaan napas masyarakat Gorontalo, menjaga anak-anak perempuannya tetap bermartabat, berilmu, dan berakhlak mulia.

© 2026 Arcomedia. Seluruh hak cipta dilindungi.
Tim Liputan Arcomedia 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)