Wellcome to Arcomedia Creative

Tradisi Meeraji Gorontalo: Rahasia Naskah Kuno & Syiar Islam Semalam Suntuk

Arief Arcomedia
0

Tradisi Me'eraji merupakan salah satu mahakarya peradaban masyarakat Gorontalo yang memadukan secara harmonis antara nilai-nilai luhur Islam dengan kearifan lokal. Sebagai bagian dari filosofi "Adat lo Syara, Syara lo Kitabullah" (Adat bersendikan Syara, Syara bersendikan Kitabullah), Me'eraji bukan sekadar ritual tahunan, melainkan manifestasi spiritualitas yang mendalam bagi rakyat di Bumi Serambi Madinah.

Setiap tanggal 27 Rajab, gema Me'eraji terdengar di berbagai penjuru masjid dan rumah-rumah penduduk. Ritual ini dilaksanakan untuk memperingati peristiwa dahsyat Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Bagi masyarakat Gorontalo, Me'eraji adalah alarm spiritual yang mengingatkan bahwa bulan suci Ramadan sudah semakin dekat, atau dalam istilah lokal sering disebut sebagai persiapan menyambut Bula lo Puasa.


Akar Sejarah: Naskah Kuno dan Bapu Ju Panggola

Menelusuri jejak Me'eraji berarti kembali ke masa 200 hingga 300 tahun silam. Naskah kuno Me'eraji diyakini disusun oleh seorang ulama besar, Syekh Ali bin Abubakar Al Hasani, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat lokal dengan sebutan Bapu Ju Panggola. Beliau adalah sosok karismatik yang meletakkan dasar-dasar syiar Islam melalui pendekatan budaya di Gorontalo.

Naskah ini ditulis dengan ketelitian tinggi menggunakan aksara Arab Pegon—tulisan Arab namun menggunakan struktur bahasa Gorontalo. Hal ini merupakan strategi dakwah yang cerdas pada masanya, agar pesan-pesan langit dalam peristiwa Isra Mikraj dapat meresap ke dalam sanubari masyarakat tanpa kehilangan identitas ke-Gorontalo-an mereka. Penggunaan bahasa lo Lipu (bahasa daerah) dalam naskah ini menjadikannya sangat eksklusif dan sakral.

Pelaksanaannya dilakukan semalam suntuk (mopotilolo). Dimulai tepat setelah salat Isya berkumandang dan berakhir saat fajar menyingsing menjelang Subuh. Durasi yang lama ini menggambarkan betapa detailnya perjalanan Rasulullah yang dikisahkan, serta betapa khidmatnya para jamaah dalam menyimak setiap bait syair yang dilantunkan.


Prosesi Ritual: Antara Kekhusyukan dan Simbolisme

Dalam pengamatan kami di Masjid Baiturrahim Kota Gorontalo, tradisi ini diawali dengan seremoni adat yang kental. Sebelum pembacaan kitab dimulai, para ulama dan pemangku adat memberikan tausiyah yang menekankan penguatan iman (moni'ala lo imani). Elemen simbolis seperti kemenyan, bara api, meja beralas kain putih, dan segelas air putih bukan sekadar hiasan. Kemenyan dan bara api melambangkan keharuman doa yang membumbung ke langit, sementara kain putih adalah simbol kesucian hati jamaah.

Pembacaan naskah dilakukan oleh seorang Leebi (Imam) atau tokoh agama yang memiliki kemampuan vokal khusus. Naskah dibagi menjadi 22 penggalan cerita atau habari. Keunikan utama Me'eraji terletak pada cara membacanya yang dilagukan (irama lo Me'eraji). Irama ini berfungsi sebagai penarik perhatian agar jamaah tidak merasa jenuh selama berjam-jam mendengarkan kisah perjalanan spiritual tersebut.

Dokumentasi Visual Tradisi Me'eraji Gorontalo
Video dokumentasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, cq. Bidang Kebudayaan. Liputan Arcomedia Gorontalo.

Du'a lo Lipu: Mendoakan Negeri Melalui Sastra

Menurut Dr. Zainal Abidin Umar, M.Si, tokoh Lembaga Adat Kota Gorontalo, Me'eraji memiliki fungsi ganda. Selain sebagai media syiar sejarah Islam, ritual ini adalah momen Du'a lo Lipu atau doa bersama untuk keselamatan negeri. Masyarakat percaya bahwa dengan melantunkan kisah suci ini, keberkahan akan turun menyelimuti Gorontalo, menjauhkan bala, dan mempererat tali silaturahmi antar warga.

Setiap bait dalam naskah mengandung pelajaran etika, moral, dan tata krama (adab). Bagi generasi muda, mendengarkan Me'eraji adalah cara untuk memahami jati diri mereka sebagai orang Gorontalo yang religius. Di sela-sela pembacaan, biasanya disuguhkan kudapan tradisional sebagai bentuk shadaqah dan kebersamaan, menciptakan suasana hangat di tengah dinginnya malam Rajab.


Eksistensi di Era Modern: Menjaga Api Literasi Budaya

Meskipun zaman terus berubah, Me'eraji tetap bertahan sebagai pilar identitas. Namun, tantangan besar muncul pada aspek literasi. Sangat sedikit generasi muda yang kini mampu membaca aksara Arab Pegon dengan lancar. Oleh karena itu, pelestarian tradisi ini tidak boleh berhenti pada seremoni saja, melainkan harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan muatan lokal atau digitalisasi naskah kuno.

Naskah Me'eraji adalah bukti bahwa leluhur Gorontalo adalah masyarakat yang sangat terpelajar (literate). Mereka mampu menyerap pengaruh global (Islam) dan mengolahnya menjadi produk budaya lokal yang orisinal. Dengan menjaga tradisi ini, kita sebenarnya sedang menjaga fondasi moral masyarakat Gorontalo agar tetap kokoh di tengah terpaan arus globalisasi.

Kesimpulan & Saran Penulis (Arif Arcomedia)

Sebagai putra daerah Gorontalo, saya melihat Me'eraji adalah identitas spiritual yang tak ternilai harganya. Tradisi ini membuktikan bahwa Islam dan budaya lokal tidak pernah bertentangan, melainkan saling melengkapi dan memperindah satu sama lain.

Berikut adalah beberapa poin penting dan saran saya untuk pelestarian Me'eraji:

  • Digitalisasi Naskah: Sangat penting untuk mendokumentasikan naskah Arab Pegon Me'eraji ke dalam format digital (PDF atau E-Book) agar bisa diakses oleh generasi mendatang sebelum naskah fisiknya rusak dimakan usia.
  • Kaderisasi Pembaca Me'eraji: Pemerintah daerah dan tokoh adat perlu mengadakan pelatihan rutin bagi anak muda untuk belajar melantunkan naskah Me'eraji. Kita butuh "penerus tongkat estafet" agar irama Me'eraji tidak hilang dari masjid-masjid kita.
  • Pemanfaatan Media Sosial: Konten video pendek tentang filosofi Me'eraji harus lebih banyak diproduksi. Liputan seperti yang dilakukan Arcomedia ini adalah langkah awal, namun perlu kolaborasi lebih luas agar viral dan dikenal dunia luar.
  • Integrasi Pariwisata Budaya: Me'eraji bisa menjadi daya tarik wisata religi yang unik di Gorontalo, asalkan dikemas dengan edukasi yang baik bagi para wisatawan tanpa mengurangi kesakralannya.

Mari kita jaga tradisi ini bukan hanya sebagai kenangan masa lalu, tapi sebagai pedoman hidup untuk masa depan. Mopo'atuli budaya, mopo'otapu barakati (Melestarikan budaya, menjemput keberkahan).

"Budaya adalah akar, dan agama adalah cahaya. Di dalam Me'eraji, keduanya menyatu menjadi identitas Gorontalo yang tak tergoyahkan."

Keywords: Tradisi Me'eraji, Gorontalo, Isra Mikraj, Bapu Ju Panggola, Naskah Arab Pegon, Budaya Islam Gorontalo, Masjid Baiturrahim, Arcomedia Gorontalo, Adat lo Syara.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)