Jejak Bisnis Willis Firjatullah: Kisah Sukses Dimsum Ketandan, Bangkit dari Sisa Rp2.500 dan Gerobak

Arief Arcomedia
0

Banyak orang menunda memulai bisnis karena alasan modal. Namun, kisah Willis Firjatullah, pendiri Dimsum Ketandan, akan mematahkan semua alasan tersebut. Bayangkan, seorang pemuda yang harus pulang kampung karena terhimpit pandemi, hanya mengantongi uang terakhir sebesar Rp2.500 di sakunya, namun kini berhasil membangun imperium kuliner dengan 10 outlet dan penjualan mencapai 3.000 dimsum dalam sehari.

Panggilan Hospitality dan Belokan Takdir

Willis muda sebenarnya telah dipersiapkan untuk dunia profesional hotel bintang lima. Lulusan sekolah perhotelan di Yogyakarta ini bahkan sempat magang di Singapura dan mendapat tawaran kontrak di Qatar. Namun, satu prinsip yang ia pegang teguh: "Uang sebanyak apa pun tak nikmat jika jauh dari keluarga."

Penolakan terhadap karir luar negeri justru membawanya ke bangku kuliah Bahasa Prancis di UGM, di mana ia mengasah kemampuan public speaking sebagai MC dan penyiar radio (dikenal dengan nama panggung Willy Virza). Siapa sangka, kemampuan komunikasi ini nantinya menjadi modal besar dalam membangun branding usahanya.

Momen 'Mind Blowing' di Art Jog

Titik balik sesungguhnya terjadi pada 2019. Saat menjadi MC di event Art Jog, Willis mencicipi sebuah dimsum yang mengubah cara pandangnya. Seketika itu juga, muncul dorongan kuat: "Saya harus jualan dimsum." Tanpa menunda, ia mulai meriset resep dengan modal awal sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta, membuat gerobak dari palet kayu bekas, dan berjualan di CFD Magelang.

Pandemi: Ujian Terberat dan Uang Rp2.500

Desember 2019, ia mulai menetap di Kampung Pecinan Ketandan, Yogyakarta. Nama "Ketandan" inilah yang ia abadikan sebagai identitas brand. Namun, baru berjalan tiga bulan, hantaman pandemi Corona memaksa Yogyakarta "berhenti berdetak". Jalanan sepi, event MC batal, dan tabungan menipis.

Willis terpaksa pulang ke Tulungagung dengan sisa uang hanya Rp2.500. Di tanah kelahiran, ia membuang gengsi. Ia meminta izin ayahnya untuk menaruh gerobak kecil aluminium di depan warung STMJ milik keluarga. Di sinilah mukjizat rezeki dimulai; dalam dua bulan, penjualannya meledak justru di tengah badai pandemi.

Rahasia Scale Up: 3 Pilar Utama Ketandan

Belajar dari kegagalan saat menutup cabang di Jogja, Willis kini menerapkan rumus ketat sebelum melakukan duplikasi outlet:

  1. Validasi Profit: Jangan tergiur omzet besar. Pastikan margin keuntungan (profit) sudah sehat dan HPP terkendali.
  2. Kekuatan Sistem (SOP): Mulai dari R&D produk, distribusi bahan baku, hingga manajemen keuangan harus terstandarisasi.
  3. Analisis Pasar: Willis tidak mengandalkan ego rasa, melainkan feedback dari "orang awam" untuk memastikan produknya diterima lidah banyak orang.

Menang di 'Red Ocean' dengan Karakter Produk

Pasar dimsum saat ini adalah Red Ocean (persaingan berdarah-darah). Willis menyikapinya dengan menciptakan Unique Selling Proposition (USP) yang kompleks sehingga sulit ditiru. Ia memadukan cita rasa oriental otentik dengan riset variabel bahan baku yang mendalam.

Strategi sustain Ketandan juga melibatkan inovasi konsep lokasi. Di Tulungagung, ia membangun outlet dengan nuansa Mini Pecinan Oriental, memberikan pengalaman (experience) yang berbeda bagi pelanggan, bukan sekadar tempat makan.

Analisis Strategis Arcomedia:

"Willis Firjatullah memberikan kita pelajaran tentang pentingnya Work-Life Integration. Banyak orang menghindari jam kerja kantoran 08-17 demi kebebasan, padahal menjadi pengusaha berarti bekerja 24/7 di pikiran. Namun, Willis membuktikan bahwa jika kita menghayati pekerjaan sepenuh hati dan menjaga restu orang tua, kerja keras itu tidak terasa sebagai beban, melainkan jalan pertumbuhan. Pesan untuk UMKM Gorontalo: Mulailah dari apa yang ada di tangan, divalidasi oleh pasar, dan dijaga dengan sistem."

- Arif Adam, Arcomedia.pro

Tonton Kisah Lengkapnya di PecahTelur:

Diedit dan dikurasi oleh: Tim Arcomedia - Solusi Media Digital UMKM

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)