Sebagai seorang blogger dan praktisi konten digital di Arcomedia, saya seringkali merenungkan fenomena "In this economy" yang kerap digaungkan generasi muda. Banyak yang beranggapan bahwa menjadi pengusaha adalah jalan pintas menuju kemewahan. Namun, lewat kacamata saya, realitanya jauh lebih menantang. Menjadi pengusaha bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan sebuah dedikasi untuk membangun sebuah Masterpiece hidup melalui tata kelola yang benar-benar teruji.
Hari ini, saya ingin membedah sebuah kisah luar biasa dari Dr. Hegi Harjoyo, seorang pakar manajemen SDM yang juga pemilik Best Doug Bakery. Kisah yang saya sarikan dari kanal Helmy Yahya Bicara ini merupakan tamparan keras sekaligus nutrisi bagi siapa saja yang ingin serius di dunia bisnis. Ini bukan sekadar cerita omzet, tapi tentang pelajaran mahal dari sebuah kegagalan yang terukur.
"It's fine to celebrate success, but it is more important to heed the lessons of failure."
— Bill Gates
Bayangkan seorang eksekutif kelas dunia, lulusan Doktor dari Malaysia, mantan Regional Manager di perusahaan multinasional sebesar Philip Morris Sampoerna, harus menghadapi kenyataan pahit saat terjun ke UKM. Dr. Hegi memulai Best Doug Bakery pada tahun 2020 dengan modal pesangon. Namun, dua tahun pertama adalah masa-masa berdarah. Uang terkuras, dan yang paling mengejutkan bagi seorang profesional sepertinya adalah fenomena moral di lapangan: penipuan dan kecurangan oknum karyawan.
Pelajaran pertama yang saya petik dari beliau adalah keberanian untuk menutup unit bisnis yang tidak sehat. Dari empat unit yang dibuka, tiga terpaksa ditutup. "Ongkos belajarnya lumayan," guraunya. Tapi di sinilah bedanya seorang Master: ia tidak menyerah, melainkan mengevaluasi sistemnya sendiri menggunakan standar korporasi yang ia sederhanakan untuk level UKM.
Membangun Ownership Melalui 'Clarity' dan Struktur
Mengapa banyak bisnis UKM macet? Menurut observasi saya atas paparan Dr. Hegi, masalahnya bukan pada produk, tapi pada Ownership (rasa memiliki) tim. Tim tidak akan merasa memiliki jika pemilik bisnis tidak memberikan Clarity (kejelasan).
"Management is doing things right; leadership is doing the right things."
— Peter Drucker
Dr. Hegi menerapkan prinsip Job-People Fit yang sangat ketat. Ia memisahkan antara "Kotak Jabatan" dengan "Orang". Kebanyakan dari kita merekrut orang dulu baru bingung mau disuruh apa. Beliau melakukan sebaliknya: tentukan strategi, buat struktur jabatan yang dibutuhkan, baru cari orang yang tepat lewat 8 instrumen tes psikologi.
Hasilnya luar biasa. Best Doug Bakery melonjak omzetnya hingga 750% hanya dalam waktu setahun setelah beliau "mengkonsultingkan" bisnisnya sendiri. Ia membangun tim pemikir, bukan sekadar pelaksana. Inilah inti dari scale-up: melepaskan ego pemilik untuk membiarkan sistem dan tim yang bekerja.
Strategi HR: Menilai Karakter Lebih dari Sekadar Skill
Dalam membangun tim di era Gen Z, Dr. Hegi menekankan pada Meaning (Tujuan). Gen Z tidak hanya bekerja untuk uang. Mereka butuh alasan mengapa pekerjaan mereka bermanfaat bagi orang lain. Ketika Purpose ini ketemu, tim akan bekerja dengan dedikasi tinggi tanpa harus diawasi terus-menerus.
Ada lima kompetensi standar yang beliau terapkan: Integritas, Learning (Keinginan Belajar), Drive (Semangat), Result (Hasil), dan Positive Attitude. Beliau mencontohkan bagaimana seseorang dengan minat sosial rendah justru sukses besar di bagian gudang karena ia menikmati kesendiriannya bekerja dengan stok. Inilah seni menempatkan orang pada tempatnya (The right man on the right place).
"Train people well enough so they can leave, treat them well enough so they don't want to."
— Richard Branson
Kesimpulan & Saran Saya untuk Anda
Melihat perjalanan Dr. Hegi, saya semakin yakin bahwa keberhasilan bisnis bukan tentang seberapa besar modal awal Anda, melainkan seberapa kokoh fondasi manajemen yang Anda bangun. Kegagalan adalah bagian dari "biaya kuliah" di universitas kehidupan. Jika beliau yang selevel eksekutif global saja pernah merasakan minus dua tahun, maka kita tidak punya alasan untuk menyerah saat menghadapi tantangan kecil.
Saran praktis dari saya untuk scale-up bisnis Anda:
- Mulai dengan Angka: Segala sesuatu yang tidak terukur tidak bisa diperbaiki. Mulailah mencatat setiap pengeluaran dan indikator performa bisnis Anda secara detail.
- Jangan Asal Rekrut: Pikirkan kotak jabatannya dulu, baru orangnya. Pastikan minat mereka sesuai dengan beban kerjanya. Orang hebat di tempat yang salah adalah pemborosan.
- Berikan Makna: Pastikan tim Anda tahu bahwa mereka tidak sedang sekadar mencari uang, tapi sedang membangun sesuatu yang bermanfaat. Bangun kedekatan emosional (Meaning) di atas kepentingan transaksional.
- Investasi pada Diri Sendiri: Skala bisnis Anda tidak akan pernah melampaui kapasitas diri Anda. Teruslah belajar, baik melalui komunitas maupun literasi profesional.
"Jangan biarkan kesulitan hari ini menghentikan langkah besar Anda. Bisnis yang kuat lahir dari badai yang hebat."
Salam Entrepreneur,
— Arief Arcomedia
Sumber Referensi: Kunci Untuk Buat Bisnis Kamu Tumbuh! | Helmy Yahya Bicara
